Siswi SD di Samarinda Diusir Dari Kelas Gegara Tak Punya Handphone dan Seragam

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Siswi SD di Samarinda Diusir Dari Kelas Gegara Tak Punya Handphone dan Seragam

Wednesday, June 8, 2022 | June 08, 2022 WIB Last Updated 2022-06-08T07:15:40Z

 


 MF (10) siswi murid Sekolah Dasar (SD) 002, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) di usir dari kelas saat ingin mengikuti ujian sekolah. Permasalahannya karena MF setahun tidak mengikuti pembelajaran online maupun PTM lantaran tak memiliki handphone dan seragam sekolah.



“Saat ingin ikut ujian, anak ini disuruh pulang oleh gurunya dengan nada tidak enak, karena anak ini tidak ikut pembelajaran selama setahun,” jelas Ketua TRC-PPA Kaltim, Rina Zainun kepada media ini, Jumat (3/6/2022).

Peristiwa pengusiran itu terjadi pada Selasa (28/05). Usai pengusiran MF ditemukan oleh seorang relawan di jalan pulang dengan kondisi menangis.


“Selain diusir anak ini juga mendapat tindak bully dari teman kelas, dia dilempar kertas dan buka saat diusir dari kelas oleh gurunya,” ucapnya.

Mendapatkan informasi tersebut, TRC-PPA Kaltim pun ikut membantu melakukan mediasi dikarenakan MF merupakan yatim, dimana ibunya telah meninggal sejak MF berumur 3 tahun, sedangkan ayah kandungnya tengah mendekam di penjara.


“Anak ini dirawat oleh tantenya, dan keluarganya orang tidak mampu, tidak bisa membelikan handphone dan seragam untuk mengikuti pembelajaran sekolah,” terangnya.


Pada Kamis,(02/05) Tim TRC-PPA Kaltim bersama wali murid mendatangi sekolah untuk menanyakan permasalahan MF ini ke pihak sekolah. Hingga setibanya sekolah dilakukan mediasi. Dan pihak guru telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


“Iya kita sudah mediasi ke sekolah, soal siswi ini sudah ada titik temu dan guru yang bersangkutan sudah mengakuinya, tapi usai mediasi sempat ada keributan, seorang guru mempermasalahkan adanya kami sebagai anggota relawan dan sejumlah wartawan,” ujar Rina.


“Guru yang bersangkutan juga sudah meminta maaf, tapi disini yang kita permasalahan pihak sekolah tidak melakukan konfirmasi kepada muridnya yang tidak hadir ikut pembelajaran, hanya menanyakan melalui teman kelas melalui pesan WhatsApp, tanpa datang sendiri ke rumah adek kita ini,” imbuhnya

Sementara itu, Rina mengungkapkan sampai hari ini, MF mengalami trauma hingga membuat siswi kelas 4 itu tidak ingin bersekolah lagi.


“Kedepan kita mau mencarikan sekolah lain untuk adik kita ini, karena saat ini keadaannya masih trauma usai mendapatkan perlakuan oleh guru dan teman-temannya,” bebernya.


Sementara itu, Kadisdik Kota Samarinda Asli Nuryadin, mengatakan pihaknya telah memanggil kepala sekolah dan guru yang melakukan pengusiran terhadap MF.

“Saya sudah memanggil kepala sekolah dan guru-guru, dan telah mendengarkan cerita mereka, artinya kita mengkoreksi diri, dan tidak ada salahnya kita minta maaf,” sebutnya.


Pihaknya pun berjanji akan memfasilitasi MF untuk dapat mengikuti proses mengajar seperti biasanya.

“Saya sendiri sudah mendengar kondisi anak ini, dengan kondisi ini sudah seharusnya kita urus, dan tidak menghambat proses belajarnya, dan kami siap memfasilitasi seperti semula,” ungkapnya.


Asli berharap, peristiwa tersebut tidak kembali terjadi di sekolah-sekolah lain di Samarinda. Dan meminta guru-guru pengajar untuk dapat menjaga emosional kepada muridnya.

“Saya sendiri sebagai kepala dinas kalau menjadi guru melakukan salah atau hilaf, ya minta maaf lah, dan jagan emosional menghadapi murid-muridnya,” pungkasnya.(*)

×
Berita Terbaru Update