Mengenal Gas Air Mata, Senjata Kimia yang Digunakan untuk Menghentikan Kericuhan dalam Peristiwa Kanjuruhan

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mengenal Gas Air Mata, Senjata Kimia yang Digunakan untuk Menghentikan Kericuhan dalam Peristiwa Kanjuruhan

Saturday, October 1, 2022 | October 01, 2022 WIB Last Updated 2022-10-02T02:42:06Z

 


 Kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) memicu kerusuhan hingga mengakibatkan 126 orang meninggal dunia.



Banyak orang menuding penyebab kericuhan juga disinyalir akibat dari tembakan gas air mata ke tribun penonton.

Hal itu terlihat dari sejumlah komentar warganet di akun Instagram @polresmalang_polisiadem dalam unggahan mereka terkait himbauan untuk mematikan api flare saat pertandingan sepak bola.

"Sangat disayangkan kejadian semalam di Kanjuruhan, penggunaan gas air mata," tulis akun @nadie.onggojoyo.


"Gas air mata tembak ke bangku penonton EVALUASI banyak anak kecil yang menonton," tulis akun @fajar_ilhmm.


"Gas air mata ditembakin aturan ke tengah lapangan atuh, jadi banyak korban kan," tulis akun @ahmad_mulmull.

Bahkan, ada pula warganet di Twitter yang menyebut penggunaan gas air mata melanggar aturan FIFA, asosiasi sepak bola dunia.


"126 orang yg meninggal di pertandingan Arema vs Persebaya?? Ini tragedi besar teman2. Gila ini. Ratusan nyawa melayang. Gas air mata ditembakan, padahal melanggar kode keamanan Fifa. Jam pertandingan minta diubah ke sore, tp ttp jam 8. Negara ini emang gak bs jd negara sepakbola," tulis akun @kemalpalevi.

Meski lazim digunakan oleh kepolisian dalam melawan kerusuhan dan penangkapan, gas air mata bisa memicu serangan jantung hingga meninggal dunia.

Lalu, apa itu gas air mata, apa efek bahayanya dan bagaimana cara mengatasinya?


Mengenal Gas Air Mata

Gas air mata merupakan senjata kimia yang mengandung sejumlah bahan kimia, diantaranya gas CS (2-klorobenzalmalononitril, C10H5ClN2), CN (kloroasetofenon, C8H7ClO), CR (dibenzoksazepin, C13H9NO), dan semprotan merica (gas OC, oleoresin capsicum).


Meski dikenal sebagai senjata tak mematikan, paparan terhadap gas ini bisa mengakibatkan dampak jangka pendek dan panjang, termasuk pemicu penyakit pernapasan, luka serta penyakit mata seperti keratitis, glaukoma dan katarak.

Selain itu, gas air mata juga dapat menyebabkan penyakit radang kulit, kerusakan sistem peredaran darah dan kematian, terutama ketika mengalami paparan tinggi.


Gas air mata biasanya juga terdiri dari campuran aerosol, seperti bromoaseton dan metilbenzil bromida, bukan gas.

Adapun gas air mata bekerja dengan membuat iritasi pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Hal itu menyebabkan batuk, nyeri mata, buta sementara, bersin, dan tangis.


Umumnya, gejala iritasi akan muncul setelah paparan selama 20 hingga 60 menit. Pada kasus sedang, paparan gas air mata akan sembuh setelah 30 menit.


Meski begitu, bagi para pengidap penyakit pernapasan dan jantung, paparan gas air mata mengakibatkan dampak risiko bahaya yang tinggi karena dapat memicu komplikasi penyakit.

Jika kamu terpapar gas air mata, usahakan tetap tenang, jangan panik, dan segera lakukan langkah-langkah di bawah ini untuk mengatasinya.


Cara Mengatasi Tembakan Gas Air Mata

1. Tutup hidung, mulut, dan mata untuk meminimalisir gas yang terhirup.

2. Basuh bagian tubuh yang terkena gas dengan air bersih dan sabun selama 10-15 menit .

3. Hindari menggosok mata, segera lepas kontak lensa dan bersihkan kacamata.

4. Ganti pakaian yang terkontaminasi. Khusus baju yang dilepas melewati kepala, dianjurkan untuk digunting agar tidak menyebabkan iritasi di pada bagian wajah.

5. Gunakan odol pada bagian bawah mata agar terhindar dari mata perih ketika terpapar gas air mata.

×
Berita Terbaru Update